RausanSays - Banyak orang yang hobi jajan, saya sendiri sering, hehehe. Bakso, mie ayam atau jajanan pasar seperti lemper dan kue lupis sangatlah mengundang selera. Apalagi disantap dengan sgelas teh manis dingin atau hangat, mantap.
Tapi ternyata dibalik lezatnya panganan yang kita makan tersebut mengandung beberapa zat kimia yang seharusnya tidak layak ditambahkan pada makanan. Well, tidak semuanya sih, tapi kali ini kita akan membahas makanan lezat yang mengandung zat-zat kimia yang berbahaya.
Anda mungkin pernah dengar berita tentang mie ayam berformalin atau bakso mengandung boraks?. Formalin, boraks atau pewarna tekstil merupakan zat kmia yang seharusnya sama sekali tidak boleh ditambahkan pada makanan. Bahkan dalam dunia industri boraks seringkali digunakan untuk bahan solder, bahan pembersih, maupun pembasmi kecoa.
![]() |
| Enak belum tentu sehat ( Image: vivanews) |
Menurut data yang diperoleh, 26 persen bakso yang ada di DKI Jakarta mengandung zat kimia boraks, belum lagi tawas yang digunakan para pedagang untuk merebus, mengeringkan dan mengeraskan bakso. Nah loh.
Boraks atau yang masyarakat Jawa sering sebut bleng, seringkali menjadi campuran bagi beberapa makanan, yang menurut mereka penggunaan bleng wajar dan biasa digunakan.
Saya pernah melihat dalam salah satu acara di stasiun televisi swasta yang menyingkap fakta dibalik saus sambel palsu, yang sering kita gunakan sebagai pelengkap saat makan bakso atau mie ayam. Ternyata bahan-bahan yang digunakan menggunakan bahan yang sudah tidak layak digunakan, dengan kata lain sudah busuk dan juga ditambah pewarna tekstil agar warnanya menarik. Jangan bayangkan cara pembuatannya yang canggih dan hegienis karena tidak sama sekali.
Ironisnya, kesadaran pedagang atau produsen akan berbahayanya zat kimia yang mereka campurkan, masih sangat lah minim. Terutama bagi produsen rumahan atau yang tidak tinggal di kota besar, mereka kadang sama sekali tidak tahu bahwa penambahan zat kimia berbahaya tersebut sangat mengancam kesehatan dan tentunya melanggar hukum.
Dampak buruk yang dihasilkan karena seringnya mengonsumsi makanan yg mengandung zat kimia tersebut sangat mengerikan, mulai dari gangguan pada otak, tumor, kanker dan cacat bawaan ketika lahir.
Mungkin dengan getolnya sosialisasi tentang bahaya penggunaan zat kimia berbahaya yang dilakukan oleh pemerintah akan mengurangi peredaran makanan yang mengandung zat-zat kimia berbahaya, tapi mungkin solusi tadi hanya efektif untuk produsen rumahan yang sama sekali tidak tahu dan bukan tinggal di kota besar. Bagi produsen yang memang sudah tahu dan tetap cuek atau pura-pura tidak tahu, mending laporkan ke pihak berwajib saja. Memangnya sobat mau, makanan yang kita makan sama dengan cairan pembersih toilet yang sering kita gunakan?, sudah tentu tidak mau lah. Makanan enak memang belum tentu sehat, sob!. (raf)
Dapatkan update artikel terbaru Rausanf.com langsung ke email anda. 100% GRATIS!!







Belum Ada Komentar Untuk "Makanan Enak Belum Tentu Sehat"
Poskan Komentar
Hallo Silakan tinggalkan pesan Anda, baik bertutur sopan sikap. Klik Subscribe by email untuk mendapat jawaban pesan anda